` Portal DPMPTSP Kota Tangerang Selatan
24 Mei 2019
Breaking News

Potensi Investasi

Ringkasan Eksekutif

 

 PENYUSUNAN MASTER PLAN INVESTASI

 KOTA TANGERANG SELATAN

 

Maksud dari penyusunan Master Plan Investasi Kota Tangerang Selatan adalah untuk menyusun dokumen perencanaan investasi pada sektor-sektor unggulan dan potensial bagi investasi yang dapat memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang Selatan. Diharapkan hasil kajian Master Plan Investasi ini nantinya menjadi material yang akan dipergunakan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tangerang Selatan dalam misi kegiatan peningkatan jalur kerjasama dan promosi potensi investasi daerah Kota Tangerang Selatan pada interval tahun 2018 – 2021.

Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom yang terbentuk pada akhir tahun 2008 berdasarkan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten. Pembentukan daerah otonom baru tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah. Dari aspek geografis, Kota Tangerang Selatan terletak di bagian timur Provinsi Banten yaitu pada titik koordinat 106°38’- 106°47’ Bujur Timur dan 06°13’30”- 06°22’30” Lintang Selatan dengan luas sebesar 16.486 (enam belas ribu empat ratus delapan puluh enam) hektar merupakan wilayah yang strategis karena berbatasan langsung dengan Ibu Kota Republik Indonesia, DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia.

Hal tersebut menjadi pemicu pesatnya laju perubahan tata guna lahan Kota Tangerang Selatan yang juga dipengaruhi oleh kegiatan yang dilakukan di wilayah ini mencakup aspek fisik, sosial ekonomi, sosial budaya, dan lainnya. Keterbatasan ruang di Ibukota Jakarta ini memunculkan wacana pembentukan “Megapolitan Area” yang salah satu bagian wilayahnya adalah Kota Tangerang Selatan di mana saat ini telah dicanangkan rencana pembangunan jaringan jalan tol baru yang melintasi wilayah Kota Tangerang Selatan, yaitu Jalan Lingkar Luar Jakarta atau JORR II (Cinere – Serpong dan Serpong – Tangerang), rencana Jalan Tol JORR II ruas Serpong – Kunciran – Batuceper – Lapangan terbang Internasional Soekarno Hatta dan rencana Jalan Tol ruas Serpong – Balaraja.

Pada interval 2010 – 2015, laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang Selatan mencapai 3,59%, tertinggi terdapat di Kecamatan Serpong Utara (5,30%) dan terendah di Kecamatan Ciputat Timur (2,51%). Tingginya laju pertumbuhan penduduk ini diindikasikan bukan hanya didukung oleh tingkat kelahiran namun juga oleh peningkatan jumlah pendatang warga di luar wilayah untuk bermukim di Kota Tangerang Selatan. Komposisi penduduk saat ini didominasi kelompok umur produktif (usia 15-64 tahun) berjumlah 1.072.001 jiwa atau 71,80 % dari komposisi penduduk.

Semakin sejahtera suatu rumah tangga maka persentase pengeluaran makanan akan lebih sedikit sehingga pemenuhan kebutuhan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, bahkan rekreasi. Berdasarkan data hasil Susenas 2015 Kota Tangerang Selatan terlihat bahwa proporsi rata-rata pengeluaran perkapita penduduk Kota Tangerang Selatan untuk kelompok makanan mencapai 35,94 persen dari total pengeluaran. Sedangkan proporsi ratarata pengeluaran untuk kelompok bukan makanan sekitar 64,06 persen. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Tangerang Selatan pada umumnya telah cukup baik.

Berdasarkan laporan World Bank (Oktober 2017), perkiraan ekonomi untuk Indonesia masih tetap cukup positif, didukung oleh lingkungan eksternal yang baik, stabilitas ekonomi makro yang berkelanjutan dan komitmen yang kuat terhadap reformasi dari pihak pemerintah. Perekonomian global terus mendukung penguatan ekonomi dan arus perdagangan internasional, serta kondisi moneter yang relatif akomodatif. Perekonomian di Provinsi Banten juga menunjukkan prospek yang sangat baik. Hal ini ditandai dengan tingkat optimisme sebagian besar masyarakat terhadap perbaikan tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan pekerjaan pada tahun 2017. Optimisme tersebut didukung oleh menurunnya tingkat inflasi pada triwulan III 2017 diperkirakan turut menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Provinsi Banten khususnya untuk konsumsi jenis perlengkapan rumah tangga, transportasi dan komunikasi, serta restoran dan hotel.

Kondusifnya situasi perekonomian juga terjadi di Kota Tangerang Selatan. Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang Selatan terus mengalami peningkatan mencapai Rp 300 miliar lebih sejak berdiri pada tahun 2009. Pendapatan Asli Daerah di tahun 2009 sebesar Rp 25,4 miliar. Pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp 110,4 miliar dan tahun 2011 meningkat lebih dari seratus persen menjadi Rp 307,2 miliar. Kemudian pada tahun 2012 ditargetkan meningkat menjadi Rp 365,9 miliar dan APBD Perubahan tahun 2012 menjadi Rp 1,985 triliun. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang Selatan disebabkan karena sistem pelayanan yang diterapkan terus diperbarui dan penambahan Sumber Daya Manusia. Hampir seluruh sektor ekonomi pada PDRB Tangerang Selatan tumbuh positif. Tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang Selatan terus tumbuh dalam kurun enam tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan PDRB per kapita di mana pada tahun 2010 PDRB per kapita sebesar Rp. 20,23 juta, dan secara konsisten terjadi kenaikan sampai pada tahun 2016 menjadi Rp. 38,10 juta. Bila diurutkan dari yang tertinggi ke terendah, maka pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar 10,65 persen. Diikuti oleh sektor pedagangan, hotel dan restoran sebesar 10,57 persen, sektor bangunan sebesar 10,17 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 8,29 persen, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 7,49 persen, dan sektor jasa-jasa sebesar 7,12 persen.

Secara kelembagaan, sektor investasi di tangsel diseenggarakan/merupakan tugas pokok dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), sebagaimana diatur dalam Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 61 Tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu.

Berdasarkan Perpres No. 16 Tahun 2012, visi RUPM Nasional Sampai Tahun 2025 adalah “Penanaman Modal yang Berkelanjutan Dalam Rangka Terwujudnya Indonesia yang Mandiri, Maju, dan Sejahtera”. RUPM Nasional memberikan arahan indikatif bagi penurunan visi RUPM Provinsi dan RUPM Kota/Kabupaten di bawahnya. Di tingkat provinsi, Provinsi Banten menetapkan visi dalam rangka menjangkau keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pelaksana pembangunan sebagai berikut “Banten Gerbang Investasi Indonesia” di mana makna penting dalam visi tersebut adalah bahwa Provinsi Banten akan menjadi pintu masuk dan tempat yang tepat bagi investor asing maupun dalam negeri untuk menanamkan dan mengembangkan modalnya di Indonesia.

Sejalan dengan visi penanaman modal nasional dan Provinsi Banten di atas, dan mengacu pula pada visi Kota Tangerang Selatan berdasarkan RPJMN Tahun 2016-2021 yaitu “Terwujudnya Tangsel Kota Cerdas, Berkualitas Dan Berdaya Saing Berbasis Teknologi dan Inovasi”, maka berdasarkan rancangan RUPM Kota Tangerang Selatan 2016-2021, visi penanaman modal Kota Tangerang Selatan sampai tahun 2025 adalah “Merwujudkan Kota Tangerang Selatan sebagai daerah Tujuan Penanaman Modal Sektor Perdagangan dan Jasa”

Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan misi sebagai berikut :

1. Meningkatkan koordinasi dan kerjasam antara pemerintah Daerah dengan Swasta dalam hal pengembangan Penanamana Modal Daerah

2. Memfasilitasi investor dalam hal penanaman modal di daerah;

3. Meningkatkan promosi potensi sumberdaya penanaman modal di daerah

4. Mendorong pemerataan kegiatan perekonomian daerah

Pengembangan kebijakan investasi Kota Tangerang Selatan disusun berdasarkan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kota Tangerang Selatan, melalui tahapan arah kebijakan pembangunan lima tahun yang tertuang di dalam RPJMD Kota Tangerang Selatan Tahun 2016 – 2021, di mana untuk interval tahun 2018-2019 arah kebijakan pembangunan dititikberatkan pada pemenuhan infrastruktur kota yang memadai dan berwawasan lingkungan, dan pada interval tahun 2020-2021 arah kebijakan pembangunan dititikberatkan pada penguatan ekonomi kota berbasis jasa dan perdagangan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa syarat vital bagi suksesnya pengembangan investasi daerah adalah dengan menciptakan iklim kewilayahan yang kondusif, yakni memiliki daya tarik besar bagi investor agar menanamkan modalnya ke Kota Tangerang Selatan. Melihat bagaimana investasi itu ditanamkan maka perlu adanya daya tarik investasi dalam suatu daerah guna meningkatkan nilai investasi itu sendiri. Berikut ini adalah faktor-faktor penentu daya tarik investasi bagi para investor (Bappeda Prov. Banten, 2016):

 

 

 

Berdasarkan kategori faktor-faktor penentu daya tarik investasi di atas, kemudian dianalisis variabel internal dan eksternal yang memengaruhi terwujudnya pengembangan investasi di Kota Tangerang Selatan, yang kemudian melalui IE Matrix dapat diketahui grand strategy investasi di Kota Tangerang Selatan melalui identifikasi posisi strategisnya, di mana Kebijakan umum investasi di Kota Tangerang Selatan mengacu kepada “strategi pertumbuhan melalui integrasi horisontal”. Dengan kata lain, Kota Tangerang Selatan harus lebih mengedepankan strategi konsolidasi karena bertumbuh dalam zona moderate attractive industry.

Dalam perkembangannya, Kota Tangerang Selatan memiliki banyak kelemahan yang menghambat pertumbuhan investasi. Di sisi lain, peluang yang dihadapi saat ini sangat besar. Dengan demikian, arah kebijakan yang harus ditempuh dalam rangka peningkatan investasi Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut :

1. Penguatan distinctive competence

a. Pembenahan aparatur yang memiliki keahlian, sikap profesional tinggi dan etos kerja yang baik

b. Pemanfaatan sumber daya alam lokal yang tereksploitasi secara optimal dan pemanfaatan keunikan karakteristik kewilayahan sebagai modal dasar pembangunan.

 

2. Penguatan competitive advantage

a. Memperbaiki sistem birokrasi melalui peningkatan tata kelola pelayanan & administrasi yang efektif & efisien

b. Meningkatkan sarana dan prasarana dasar perkotaan beserta penunjangnya sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kinerja bisnis sektor unggulan dan sektor potensial yang dikembangkan

c. Meningkatkan kesejahteraan warga melalui penyediaan berbagai fasilitas pelayanan dasar perkotaan serta pengembangan kawasan strategis yang mendukung penguatan perekonomian lokal

d. Pemberian kemudahan bagi prosedur pelayanan penanaman modal serta pemberian insentif yang mampu menstimulus pencapaian target distribusi investasi daerah dengan tetap mengacu pada kemampuan belanja fiskal daerah

e. Menciptakan lingkungan kota yang aman, kondusif, berbudaya serta selaras dengan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dan pelestarian alam.

 

Mengacu kepada tujuan pengembangan kebijakan investasi Kota Tangerang Selatan yaitu menumbuhkan perekonomian daerah yang berdaya saing berbasis produk unggulan, maka perlu diidentifikasi sektor dan subsektor lapangan usaha apa saja yang saat ini menjadi ekonomi basis dan non basis, dan sektor dan subsektor lapangan usaha apa saja yang di masa mendatang layak dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Terdapat dua faktor utama yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi potensi kegiatan ekonomi daerah. Pertama, sektor ekonomi yang unggul atau mempunyai daya saing dalam beberapa periode tahun terakhir dan kemungkinan prospek sektor ekonomi di masa mendatang. Berdasarkan hasil analisis sektor ekonomi basis serta analisis pola dan struktur pertumbuhan ekonomi sektoral di Kota Tangerang Selatan, rekomendasi prioritas pengembangan investasi dan penanaman modal terhadap sektor-sektor unggulan yang prima terdiri atas :

1. Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

2. Usaha Informasi dan Komunikasi

3. Usaha Real Estate

4. Usaha Jasa Perusahaan, dan

5. Usaha Jasa Pendidikan.

 

Adapun sektor-sektor unggulan yang potensial dan prospektif untuk dikembangkan terdiri atas :

1. Usaha Konstruksi

2. Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

3. Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, dan

4. Usaha Jasa Lainnya.

 

Berdasarkan perkembangan nilai ICOR Kota Tangerang Selatan pada interval tahun 2010-2015 di atas, diperoleh nilai rata-rata ICOR sebesar 6,25. Berdasarkan amanat RPJMD Tahun 2016-2021, pada tahun 2021, Kota Tangerang Selatan ditargetkan berhasil mengumpulkan investasi total dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar US$ 3,65 Miliar (267 entitas usaha) dan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp. 475 Miliar (90 entitas usaha) yang terdistribusi di seluruh sektor / subsektor usaha. Dengan target laju pertumbuhan ekonomi berkisar antara 6% - 7,5% per tahun, target capaian PDRB harus dicapai pada interval Rp. 79,50-86,49 Triliun di mana capaian PDRB per kapita ditargetkan sebesar Rp. 42.94-46,72 juta/tahun.

Dengan nilai ICOR rata-rata yang diasumsikan konstan yakni sebesar 6,25 dan dengan mempergunakan asumsi laju inflasi rata-rata Kota Tangerang Selatan sebesar 4,7%, maka untuk memenuhi berbagai parameter di atas total kebutuhan riil investasi di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2017 sebesar Rp. 18,55 triliun. Selanjutnya dengan asumsi– asumsi yang sama, maka pada tahun 2018 investasi yang dibutuhkan mencapai Rp. 19,66 triliun, tahun 2019 sebesar Rp. 20,84 Triliun, tahun 2020 sebesar Rp. 22,09 Triliun dan tahun 2021 sebesar Rp. 23,62 Triliun dengan asumsi pertumbuhan yang telah diamanatkan dalam RPJMD Tahun 2016- 2021.

Dengan tingkat kontribusi rata-rata sektoral terhadap PDRB diasumsikan konstan, maka dapat diproyeksikan distribusi kebutuhan investasi kelompok Sektor Prima, Sektor Potensial dan sektor lainnya di Kota Tangerang Selatan tahun 2018-2021 sebagaimana yang dapat dilihat pada Tabel berikut.

 

Rencana implementasi program yang didistribusikan pada interval tahun 2018 hingga 2021 di mana dasar pendistribusiannya mengacu kepada tahapan arah kebijakan pembangunan Kota Tangerang Selatan yang telah diamanatkan di dalam RPJMD Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 yakni pada interval tahun 2018 – 2019 dapat terwujud berbagai program pemenuhan infrastruktur kota yang memadai dan berwawasan lingkungan, dan pada pada interval tahun 2020 – 2021 dapat terlaksananya berbagai program penguatan ekonomi kota berbasis jasa dan perdagangan. Dengan memperhatikan Rencana Pola Ruang Kota Tangerang Selatan 2018-2031(sumber: Draft Revisi PERDA RTRW 2017-2031), diusulkan 13 (tiga belas) indikasi program prioritas investasi di Kota Tangerang Selatan yaitu sebagai berikut :

1. Program Pengembangan Permukiman & Real Estate

1.1 Pengembangan kawasan perumahan kepadatan tinggi & sedang

1.2 Pengembangan & pembangunan hunian vertikal

1.3 Pengembangan pemukiman RS & RSS bagi warga MBR

1.4 Pembangunan utilitas, prasarana dan sarana kawasan perumahan

1.5 Pengembangan sarana pendidikan, olah raga, kesehatan dan rekreasi

 

2. Program Pengembangan Sarana Transportasi

2.1 Pengembangan sistem angkutan massal dalam kota

2.2 Pengembangan jaringan kereta dalam kota

2.3 Pembangunan stasiun kereta baru

 

3. Program Peningkatan Pelayanan Jaringan Telekomunikasi

3.1 Pengembangan jaringan telekomunikasi bawah tanah

3.2 Penataan dan pembangunan menara telekomunikasi

3.3 Pengembangan Jaringan Serat Optik dan TV Kabel

 

4. Penyediaan Air Minum (Pengembangan unit air baku dan produksi)

 

5. Pengolahan Air Limbah

5.1 Pengembangan sistem air limbah domestik dengan sistem setempat & terpusat

5.2 Pengembangan pengolahan limbah industri dengan sistem setempat

5.3 Pengembangan prasarana limbah industri sistem terpusat

 

6. Pengelolaan Persampahan

6,1 Pengembangan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery) di TPS

6,2 Pengelolaan sampah kerja sama Swasta dan daerah sekitar

 

7. Revitalisasi Sistem Drainase (Pengembangan fungsi situ, tandon air, kolam & sumur resapan)

 

8. Penyediaan Sistem Jaringan Energi & Kelistrikan

8.1 Pengadaan stasiun BBG

8.2 Mengembangkan energi listrik alternatif

 

9. Pengembangan Industri & UMKM

9.1 Penataan kawasan peruntukan industri

9.2 Pengembangan dan penataan industri rumah tangga

9.3 Pengelolaan & pengendalian perkembangan industri eksisting

9.4 Pengembangan kegiatan industri kreatif

9.5 Optimalisasi kegiatan kawasan bandara khusus

9.6 Pengembangan sektor informal

 

10. Pariwisata

10.1 Pengembangan rekreasi dan wisata alam

10.2 Penataan & pengembangan wisata belanja

10.3 Penataan pariwisata dan revitalisasi bangunan cagar budaya

 

11. Kawasan Perdagangan & Jasa

11.1 Pengembangan dan pembangunan (revitalisasi) pasar tradisional

11.2 Pengembangan kegiatan MICE (Meeting, Incentive,Convention, And Event/Exhibition)

11.3 Pengembangan & penataan pusat perbelanjaan

11.4 Pengembangan dan penataan toko modern

11.5 Pengembangan kawasan perdagangan khusus

11.6 Pengembangan kegiatan perdagangan & jasa dengan konsep superblok atau mix-use

 

12. Perparkiran

12.1 Penyediaan parkir off street

12.2 Pengembangan konsep park and ride

 

13. Ruang Terbuka Hijau

13.1 Pengembangan & penataan taman perumahan, kelurahan, dan kecamatan

13.2 Pengembangan RTH jalur hijau

13.3 Pengembangan RTH sebagai pusat wisata rekreasi & olah raga

13.4 Pengembangan fasilitas umum & fasilitas sosial